Beranda Perspektif Menelusuri Jejak Perang Biologis Jepang di Asia Tenggara

Menelusuri Jejak Perang Biologis Jepang di Asia Tenggara

Akademisi Singapura Lim Shao Bin memeriksa salinan materi arsip di kediamannya di Singapura pada 23 Agustus 2025. (Carapandang/Xinhua/Shu Chang)

0
Xinhua

   Namun, penyelidikan AS tersebut segera berujung pada upaya menutup-nutupi kebenaran. Secara diam-diam, para investigator memberikan kekebalan kepada pihak-pihak yang terlibat sebagai imbalan atas data penelitian yang didapat oleh unit-unit perang biologis Jepang. Banyak pelaku eksperimen dan serangan biologis yang kejam kemudian membuka praktik pengobatan sipil, beberapa di antaranya bahkan menjadi dokter yang dihormati.

   Pernyataan dari para saksi mata hanya muncul sesekali dan kurang mendapat perhatian. Baru pada 1981, melalui buku Seiichi Morimura yang berjudul "The Devil's Gluttony", kengerian Unit 731 terungkap ke publik.

   "Banyak orang tidak menyadari bahwa selain pembunuhan brutal, ekspansi militer Jepang sering dilakukan dengan kedok yang disebut sebagai bantuan kesehatan dan teknis," ungkap Lv. "Kita perlu mengembalikan fakta dan bersikap jujur tentang sifat agresi Jepang agar generasi mendatang tidak mengulangi kesalahan masa lampau."

   "Pemerintah Jepang, meskipun mengakui keberadaan Unit 731, menyangkal adanya bukti eksperimen terhadap manusia atau perang biologis. Terlebih lagi, masyarakat Jepang belum sepenuhnya merefleksikan penyebab sebenarnya dari perang tersebut," kata Hara.

   Dia memperingatkan urgensi pengungkapan kebenaran sejarah, mengingat "dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah mendorong peningkatan militer besar-besaran."

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here